"Mulai tahun depan pemerintah membatasi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi bagi kendaraan pribadi di Pulau Jawa dan Bali." (Koran Tempo edisi 3673)
Apa yang muncul pertama kali di benak kalian selesai membaca kalimat ini? Mungkin bagi sebagian besar orang yang tidak bergantung pada kendaraan pribadi akan masa bodo dengan kalimat tersebut. Atau mungkin bagi pemerintah, pengurangan subsidi BBM akan dapat menghemat RAPBN sebesar Rp 4,9 triliun. Angka yang fantastis, bukan? Tapi bagi orang yang sangat bergantung dengan kendaraan pribadi kemana pun ia pergi akan merasa keberatan dengan kalimat ini.
Mereka menentang keras kebijakan pemerintah ini, bukan karena tidak setuju dengan penghematan anggaran, tapi karena mereka mau tidak mau harus memilih, beralih ke kendaraan umum atau tetap menggunakan kendaraan pribadi dengan resiko dompet jebol. Sebuah pilihan yang sulit memang. Bila memilih pilihan kedua berarti harus merelakan uang untuk liburan dialihkan ke transportasi. Tapi bila memilih pilihan pertama, ya berarti harus rela kehilangan kenyamanan.
Kendaraan umum di Indonesia masih belum mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah, mulai dari kereta yang tidak sesuai jadwal sampai metromini ugal-ugalan yang tidak layak jalan lagi. Pemerintah seharusnya memperbaiki fasilitas umum ini terlebih dahulu, baru bisa menjalan kebijakan pelarangan penggunaan bbm subsidi tersebut. Saya sangat yakin bila pemerintah merevitalisasi kendaraan-kendaraan umum, maka masyarakat dengan sendirinya akan menggunakan transportasi massal tersebut. Kota Seoul contohnya, dulu sering terjadi kemacetan di kota itu. Tapi pemerintahnya serius membenahi transportasi umum sehingga banyak orang meninggalkan kendaraan pribadinya, lalu beralih ke kendaraan umum. Kemacetan pun akhirnya teratasi. Sebuah prestasi bukan?
Ayolah pemerintah, jangan mudah terpedaya pengusaha-pengusaha kendaraan dan jalan. Tengoklah ke bawah. Sudah waktunya rakyat Indonesia merasakan kenyamanan serta keamanan di kendaraan umum. Selain dapat menghemat anggaran dan mengurangi kemacetan, hal tersebut juga dapat mengurangi emisi gas buang CO2. Indonesia hijau, kenapa tidak?
Oct 13, 2011
Oct 9, 2011
blog yang kesekian
Hai hai, selamat datang di blog gue yang kesekian. Gue ini rajin bikin blog, tapi ga rajin ngeposting. Hmm, lebih tepatnya ga setia sama satu blog. Gue udah punya banyak blog, mulai dari wordpress, tumblr sampe yang blogspot juga. Tapi jarang gue urus, palingan yang wordpress yang masih sering diliat-liat. Akhirnya gue memutuskan untuk membuat blog baru dengan niatan dalam hati harus rajin-rajin posting. Voila jadilah blog ini, hehehe.
Sebenernya si gue bikin blog ini terinspirasi sama satu orang yang ga gue kenal, tapi gue merasa deket sama dia karena tulisan-tulisan di blognya. Enak banget rasanya baca tulisan-tulisan dia. Mengalir dan simpel. Jujur dia ini orang yang gue cari dan gue idam-idamkan. Tapi sayang udah ada yang punya, ha ha ha. Ketawa lesu.
Gue nulis ini pas lagi mau nyelesain esai syarat untuk join English Debate Society (EDS) UI. Asosiasi ini merupakan asosiasi debat bahasa Inggris pertama yang ada di Indonesia. Gue tertarik untuk ikut asosiasi ini soalnya gue pengen latihan bahasa Inggris. Kebanyakan belajar bahasa Jerman udah melunturkan kemampuan bahasa Inggris gue dari yang pas-pasan jadi semakin pas-pasan, huhuhu. Makanya gue pengen ikut EDS, biar gue ga lupa sama bahasa Inggris. Selain pengen latihan bahasa Inggris, gue juga pengen latihan ngomong di depan publik. Gue ini sebenernya ga pemalu, gue biasa ngobrol dengan orang-orang terus cerita-cerita, tapi sayangnya ketika harus ngomong depan banyak orang kelu-lah lidah gue, ga tau mau ngomong apa. Makanya gue harus belajar ngomong depan publik, kan gue mau jadi diplomat! Tapi-tapi malesnyooo ngerjain esai ini, gimana mau keterima coba? Padahal apa aja yang mau ditulis udah ada di otak, tapi kok susah merubahnya menjadi kata-kata. Makin susah lagi jadinya kalo gue terus ngeluh dan ga berenti ngetik postingan ini. hahaha.
Adios!
Subscribe to:
Comments (Atom)